Selasa, 10 Mei 2011

makalah proposal skripsi 2011

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sekolah Menengah Atas Negeri-1 Palangka Raya yang dulu dikenal dengan nama Sekolah Menengah Atas-1 Pahandut didirikan pada tanggal 1 Agustus 1959 dengan SK Departemen Pendidikan dan Kebudayaan No. 25/SK/B-III/tanggal 28 Mei 1959, sebagai SLTA Negeri Pertama di Palangka Raya. Saat ini Kepala Sekolah Menengah  Atas-1 Palangka Raya, di jabat oleh Dra. Rosmari Jawan, M.Si dan dibantu oleh ….. orang pengajar dan …… orang tata usaha. Jumlah siswa yang beragama Kristen dari kelas X sampai kelas XII berjumlah 489 orang siswa dengan perincian sebagai berikut : kelas X 184 orang, kelas XI 163 orang dan kelas XII 142 orang, kelas XI 163 orang dan kelas XII 142 orang. Sekolah Menengah Atas Negeri-1 Palangka Raya beralamat di Jl. A.I.S Nasution No. 2 Palangka Raya.
Program pembelajaran disekolah Menengah Atas Negeri 1 Palangka Raya khususnya kelas X,XI,XII menggunakan kurikulum berbasis kompetensi (child centered) berdasarkan ketetapan Menteri Pendidikan, dan Kebudayaan no. IV tahun 1999 bidang pendidikan berbasis kompetensi (KBK) kurikulum berbasis kompetensi (KBK) tersebut dilaksanakan mulai pada tahun pelajaran 2003/2004 dan kemudian pada tahun 2007 kurikulum tersebut dikembangkan menjadi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dan digunakan sampai sekarang.
Pada tahun ajaran 2010/2011 jumlah tenaga guru yang aktif mengajar …. Orang, termasuk didalamnya 3 orang guru pendidikan Agama Kristen. Jumlah siswa keseluruhan yang aktif mengikuti proses belajar mengajar adalah ….. orang, termasuk didalamnya. Siswa yang beragama Kristen berjumlah 489 orang. Berdasarkan data tersebut guru Pendidikan Agama Kristen masing-masing bertugas mengajar kelas X, XI dan XII.
Disekolah Menengah Atas Negeri-1 Palangka Raya, pengajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) dilaksanakan satu kali seminggu dengan jumlah waktu satu kali pertemuan satu jam 30 menit pelajaran (2x45 menit = 90 menit). Minimnya pertemuan antara guru dan siswa tersebut mengakibatkan guru pendidikan agama Kristen kurang memperhatikan nilai siswa terhadap pengajaran pendidikan agama Kristen.  Kurikulum yang digunakan di SMA Negeri 1 Palangka Raya adalah kurikulum 2006 atau Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan (KTSP), dimana kurikulum ini lebih menekankan pada tingkat kemampuan atau kompetensi siswa. Dalam kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ini standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar sudah ditetapkan hanya indikator disesuaikan dengan Kompetensi materi yang akan disampaikan dan tujuannya pada pendidikan di SMA mengacu untuk jenjang pendidikan tinggi. Program Pembelajaran SMA terdiri program pengajaran umum dan khusus, program pengajaran umum dilaksanakan di kelas X dan XI, sedangkan program pengajaran khusus dilaksanakan di kelas XII.       
Walaupun kurikulum yang digunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tetapi guru masih terpaku pada kurikulum yang lama, menggunakan metode satu arah atau ceramah yang tidak maksimal dalam mengaktifkan dan meningkatkan nilai belajar siswa, dimana siswa tidak begitu dihargai sebagai keseluruhan atau pribadi yang utuh, siswa dianggap sebagai obyek bukan subyek dan tidak menjadi bagian penting didalam proses belajar mengajar dan sehingga siswa tidak bergairah dan bersemangat mengikuti pelajaran pendidikan agama Kristen.
Dampak dari kondisi tersebut diatas merupakan pengaruh kurangnya kesadaran guru pendidikan Agama Kristen dalam meningkatkan nilai test sumatif siswa. Guru merupakan tenaga pengajar yang mempunyai peranan yang sangat penting dalam mengajar, mendidik dan membimbing siswa dalam meningkatkan nilai belajarnya terhadap pelajaran.
Tetapi dalam kenyataannya, yang terjadi guru cenderung hanya mengajar materi pelajaran secara verbal (kata-kata) dan melaksanakan tugasnya hanya sebagai formalitas saja, dan kurang memperhatikan apakah nilai test sumatif siswa pendidikan Agama Kristen meningkat.
Guru kurang peduli dan bersikap acuh dalam menghadapi permasalahan tersebut, padahal pengantaran Pendidikan Agama Kristen sangat penting dalam membentuk suatu kepribadian siswa melalui sikap dan perbuatan yang baik di dalam kehidupan sehari-hari siswa berdasarkan kesaksian Alkitab.
Berdasarkan hal tersebut perlu diupayakan cara meningkatkan nilai test sumatif siswa khususnya dalam pengajaran Pendidikan Agama Kristen. Seorang guru Pendidikan Agama Kristen dapat melakukan pendekatan berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dengan cara memahami dan menghargai kedudukan siswa dalam pengajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) sebagai pribadi yang utuh.
Dengan ketentuan tersebut jelaslah bahwa evaluasi kegiatan dan kemajuan peserta didik (siswa) harus dilaksanakan oleh setiap guru. Oleh karena itu penilaian (evaluasi) belajar siswa merupakan unsur yang penting dalam proses belajar mengajar, karena dengan evaluasi kita dapat mengetahui keberhasilan guru dalam mengajar. Disamping itu pula evaluasi dapat memberikan umpan balik kepada guru dalam perbaikan proses belajar selanjutnya, dan dengan evaluasi dapat memberikan dorongan kepada siswa untuk lebih giat belajar.
Dalam pelaksanaan evaluasi belajar mengajar dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu evaluasi proses belajar jangka pendek yang disebut dengan test formatif atau ulangan harian dan evaluasi terhadap proses belajar mengajar jangka panjang disebut dengan test sumatif atau ulangan/ujian semester.
Dari dua jenis evaluasi ini yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif tentu mempunyai kaitan yang erat, bahkan berada dalam satu kesatuan yang saling melengkapi.
Oleh karena berdasarkan latar belakang permasalahan diatas, maka penulis tertarik meneliti :Peranan Tes Formatif dalam Meningkatkan Nilai Test Sumatif Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) pada Siswa Kelas X Semester Genap Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Palangka Raya”.
    
B.     Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah dalam penelitian ini, maka penulis merumuskan masalah penelitian ini adalah:
1.        Pokok Masalah
Pokok masalah yang ditetapkan adalah: “Bagaimanakah peranan tes sumatif dalam meningkatkan nilai sumatif mata pelajaran PAK siswa Kelas X SMA Negeri 1 Palangka Raya.”

2.        Sub Pokok Masalah
a.    Seperti apa  nilai yang diperoleh siswa selama mengikuti test formatif pada siswa kelas X semester ganjil dan semester genap di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Palangka Raya, Tahun Pelajaran 2010/2011?
b.    Apakah ada peningkatan nilai sumatif setelah pemberian test sumatif pada siswa kelas X semester ganjil dan semester genap di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Palangka Raya, Tahun Pelajaran 2010/2011?

C.    Tujuan Penelitian
Dalam setiap aktivitas yang dilakukan tentu saja mempunyai tujuan, dan tujuan tersebut merupakan dasar bagi orang melakukan pekerjaan tersebut. Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1.      Untuk mengetahui nilai test formatif sebelum diadakan tes sumatif, mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen kelas X semester ganjil dan genap di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Palangka Raya.
2.      Untuk mengetahui pengaruh nilai test formatif dalam meningkatkan nilai tes sumatif mata pelajaran pendidikan Agama Kristen kelas X pada akhir semester di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Palangka Raya.

D.    Batasan Masalah
Mengingat akan hakikat Pendidikan Agama Kristen itu sangat luas dan kompleks, maka yang menjadi fokus masalah dalam penelitian ini dibatasi pada : pemberian test formatif setiap mengakhiri pembelajaran pendidikan Agama Kristen dan pengaruh pemberian test formatif dalam meningkatkan nilai sumatif kelas X semester genap, di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Palangka Raya.

E.     Asumsi Penelitian
Penelitian ini akan dilandasi dengan asumsi-asumsi sebagai berikut:
Pembelajaran pendidikan disekolah adalah dasar untuk pemberian test formatif pada alat evaluasi yang akan mengukur tingkat keberhasilan siswa belajar Pendidikan Agama Kristen.

F.     Hipotesis
Terdapat pengaruh positif pemberian test formatif dalam meningkatkan nilai tes sumatif pembelajaran pendidikan Agama Kristen siswa X semester ganjil dan genap Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Palangka Raya.


G.    Manfaat Penelitian
1.      Sebagai masukan/acuan/informasi bagi kepala sekolah untuk membina guru-guru dalam menganalisis dan memperbaiki proses belajar mengajar disekolah sehingga hasil belajar siswa dapat ditingkatkan.
2.      Sebagai bahan masukan bagi para guru-guru dalam mengakses dan memperbaiki kegiatan belajar mengajar yang telah dilaksanakan melalui hasil test formatif sehingga hasil test sumatif dapat meningkat.

H.    Metodologi Penelitian
1.      Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, yakni data angka yang diperoleh dihitung menggunakan statistik persentasi.
2.      Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data penelitian yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Study dokumenter
-          Meneliti dokumen pemberian nilai formatif dalam semester….
-          Meneliti nilai sumatif setiap siswa pada akhir semester untuk melihat efeftifitas pemberian tes formatif.
3.      Sumber Data
Sumber dalam penelitian ini adalah informasi yang diperoleh guru Agama Kristen dan wali untuk mendapat obyek penelitian berupa dokumen formatif dan sumatif.

I.       Sistematika Penulisan
Salah satu upaya mempermudah kajian penelitian ini, peneliti akan menyajikan secara singkat garis besar sistematika penulisan berupa uraian secara perbab, hal ini penulis lakukan untuk memberi gambaran secara menyeluruh tentang penelitian yang sudah dilakukan pembagian bab-bab tersebut adalah sebagai berikut. 
Bab I, penelitian memaparkan pendahuluan yang didalamnya mengkaji latar belakang masalah, rumusan masalah penelitian, tujuan masalah penelitian, pembatasan masalah penelitian, asumsi penelitian, alasan pemilihan judul dan manfaat penelitian, metodologi pemikiran, dan sistematika penelitian. Bab II, kerangka teoritis peneliti membagi enam garis besar. Bagian pertama memaparkan tentang devinisi guru Pendidikan Agama Kristen, bagian kedua memaparkan pendidikan Agama Kristen, bagian ketiga konsep dasar tes formatif dalam proses belajar mengajar, bagian ketiga memaparkan konsep dasar tes sumatif dalam proses belajar mengajar, bagian keempat memaparkan konsep dasar tes formatif dengan tes sumatif dalam meningkatkan nilai belajar siswa, bagian kelima memaparkan pengaruh tes formatif dengan tes sumatif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, bagian keenam memaparkan tentang mata pelajaran pendidikan agama Kristen. Bab III, memaparkan hasil penelitian di lapangan yang meliputi : gambaran umum SMA Negeri 1 Bulik Kabupaten Lamandau, makna Pendidikan Agama Kristen terhadap tes formatif dengan tes sumatif di SMA Negeri 1 Bulik Kabupaten Lamandau, pelaksanaan tes formatif dan sumatif di SMA Negeri 1 Bulik Kabupaten Lamandau. Bab IV, peneliti memaparkan pembahasan yakni, hubungan antara nilai tes formatif dengan tes sumatif yang berpusat pada materi, pola pelaksanaan pendidikan agama Kristen di SMA Negeri 1 Bulik Kabupaten Lamandau.Bab V, peneliti membuat kesimpulan dan memberikan saran-saran. Dengan harapan agar sekolah dapat mempergunakannya sebagai salah satu upaya dalam mengajar, mendidik, menanamkan nilai-nilai kekrestenan dan menjadi model atau contoh yang patut ditiru.














BAB II
LANDASAN TEORI

A. DEFINISI GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN
l.    Arti Guru Pendidikan Agama Kristen
            Untuk dapat mengetahui peranan guru Pendidikan Agama Kristen. Maka perlu terlebih dahulu dijelaskan pengertian guru secara umum dan guru Pendidikan Agama Kristen adalah sebagai berikut :
a.   Secara umum definisi guru adalah tenaga pengajar yang dilatih atau dipersiapkan dan dipilih untuk tugas mengajar, sedangkan guru Pendidikan Agama Kristen adalah seorang pendidik yang mengajarkan Pengetahuan, tentang pokok-pokok ajaran iman Kristen yang dinyatakan Tuhan di dalam Alkitab, yang menentukan, mengarahkan, dan membimbing siswa supaya bertumbuh dalam iman. (Jhon M. Nainggolan, 2007 : 8)
b.   Selanjutnya menurut pendapat Leatha Humes dan Lieke Simanjuntak, (1998 : 47) bahwa guru Pendidikan Agama Kristen adalah "Seorang yang dipanggil kepada Tuhan Yesus Kristus, ditebus dan menjadi murid yang tetap mengikutinya dan belajar dari-Nya serta ditugaskan untuk membuat anak didik menjadi murid Kristus dan kemudian mengajar mereka melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkan Tuhan kepadanya.
            Berdasarkan pengertian guru dan burn Pendidikan Agama Kristen di alas, maka, dapat disimpulkan Guru Pendidikan Agama Kristen adalah tenaga pengajar atau pelayan yang dipilih dan dilatih untuk tugas mengajar Pendidikan Agama Kristen. Pengajaran Pendidikan Agama Kristen merupakan pengetahuan tentang pokok-pokok ajaran iman Kristen yang , dinyatakan Tuhan dalam Alkitab, yang menentukan, mengarahkan, dan guru membimbing siswa supaya bertumbuh dalam iman yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, serta mewujudkan iman tersebut di dalam kehidupan sehari-hari.
2.   Peranan Guru Pendidikan Agama Kristen
            Berbicara tentang peranan, perlu diketahui  arti peranan itu secara umum, yaitu: merupakan pengaruh besar terhadap tindakan yang. ingin dilakukan oleh seorang individu dalam rangka mengarahkan, membimbing, dan menentukan seseorang pada suatu pilihan yang mendasari tujuan yang ingin dicapai.
            Berdasarkan pemahaman di atas, maka peranan guru Pendidikan Agama Kristen bukan hanya memberikan pengajaran dan bimbingan di bidang Pendidikan Agama Kristen kepada siswa. Tetapi tujuan yang ingin di capai adalah untuk mengembangkan dan menumbuhkan iman, sikap, . dan tindakan sesuai dengan kesaksian Alkitab di dalam kehidupan siswa sehari-hari.
            Peran guru Pendidikan Agama Kristen yang ideal di dalam proses belajar -mengajar tidak bergaya otoriter terhadap secara yang memaksimalkan kehendaknya kepada siswa, dengan hanya memberikan materi pelajaran tanpa memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeluarkan pendapatnya dan bertanya kepada guru.
            Hendaknya guru Pendidikan Agama Kristen berperain sebagai fasilitator yang menciptakan kelas menjadi wahana atau suasana yang hangat dan nyaman, sehingga terciptanya hubungan yang harmonis dalam komunikasi antara siswa dengan guru di sekolah. Guru dapat menjadi orang tua dan sahabat bagi murid, dengan bersikap demikian maka dalam hidup murid akan berkembang sikap menghormati dan-menghargai serta mengasihi guru.
            Guru Pendidikan Agama Kristen harus menyadari peranannya yang sangat istimewa itu, guru dianggap ahli dan dipercayai oleh siswa dalam hal menyampaikan mengajar, sebab itu guru harus mempunyai pengetahuan cukup tentang isi pokok-pokok iman Kristen yang terdapat di dalam Alkitab dan mempunyai hasrat sejati untuk menyampaikan pokok-pokok ajaran Kristen.
            Adapun syarat yang harus dimiliki oleh seorang guru pendidikan Agama Kristen yang berhubungan dengan peranannya yang sangat penting dalam mengajarkan Pendidikan Agama Kristen yaitu sebagai berikut :
a.   Kecakapan untuk menimbulkan minat bahkan menggembirakan hati siswa dengan pokok yang diajarkannya.
b.   Semangat pengorbanan diri dan menjadi teladan dalam tugas menyampaikan  pokok-pokok pengajaran Kristen kepada siswa.



3.   Tugas Dan Tanggung Jawab Guru Pendidikan Agama Kristen
            Guru Pendidikan Agama Kristen secara umum mempunyai tugas dan tanggung jawab: mengajar, mengasuh dan membimbing hidup rohani siswa. Menurut pendapat Homrighausce dan Enklaar tugas dan tanggung jawab guru Pendidikan Agama Kristen10 secara khusus, sebagai berikut :
a.   Guru Pendidikan Agama Kristen menjadi penafsir iman; yang menguraikan dan menerangkan kepercayaan Kristen. Gurulah yang menyampaikan harta-harta dari masa lampau kepada siswa.
            Dengan demikian guru Pendidikan Agama Kristen mempunyai tugas dan tanggung jawab Yang besar dalam-pendidikan-agama bagi siswa,  sebab pendidikan agama tidaklah sama dengan pelajaran lain di sekolah. Guru Pendidikan Agama Kristen bertanggung jawab dan dituntut untuk memi9iki keterampilan dalam menyelami seluruh materi pelajaran dan menghubungkannya dengan nilai -nilai iman Kristen, sehingga siswa dapat mengcmbangkan kepribadian yang utuh, dan mampu mengaplikasikan materi tersebut di dalam kehidupannya sehari-hari.

4.   Dasar Alkitabiah Dalam Pelaksanaan Tugas dan Tanggung jawab Guru Pendidikan Agama Kristen.
            Guru Pendidikan Agama Kristen merupakan orang yang memberikan dirinya secara penuh kepada Tuhan Yesus Kristus dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab. Guru, tidak boleh mengangap bahwa Tugasnya mengajar hanya merupakan formalitas saja, terapi guru harus bersungguh-sungguh dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya untuk membawa siswa kepada pengajaran Tuhan Yesus Kristus yang benar dan sejati.
            Dasar Alkitabiah yang mendorong pelaksanaan tugas dan tanggung jawab guru Pendidikan Agama Kristen yang terdapat dalam Injil Matius 28:19-20;  Karena itu pergilah, jadikan segala bangsa melalui baktislah mereka dalam Nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarkanlah mereka melakukan segala sesuatu yang Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman. “Dasar Alkitabiah ini disebut sebagai Amanat Agung.
            Guru Pendidikan Agama Kristen dalam melaksanakan tugasnya terpanggil untuk bertumbuh ke arah pengenalan yang semakin mendalam dan lengkap tentang pribadi Tuhan Yesus yang akan memungkinkan guru Pendidikan Agama Kristen memahami kehendak Tuhan dalam tugas 6an tanggung jawabnya. Membawa siswa dalam kepada pengenalan yang sejati akan pribadi dan karya Allah dan Tuhan Yesus sebagai jalan 'kebenaran dan hidup (Yohanes 1:18; 14-6)13.
            Guru Pendidikan Agama Kristen       bertanggung jawabnya . membawa siswa kepada Kristus, sehingga siswa dapat mengenal dan mempermuliakan serta mengakui dengan lidahnya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan juruselamat semua umat manusia yang ada di dunia ini (Filipi 2: 5-ll). Pekerjaan guru Pendidikan Agama Kristen adalah pekerjaan yang mulia, sebab itu hendaknya guru Pendidikan Agama Kristen tidak menganggap bahwa pekerjaan itu sebagai pekerjaan sampingan yang dianggap remeh. Tetapi hendaknya pekerjaan itu merupakan pelayanan yang sungguh-sungguh kepada Tuhan.

B. Pendidikan Agama Kristen di Sekolah
1.   Pengertian Pendidikan Agama Kristen.
            Pengertian Pendidikan Agama Kristen berasal dari istilah “Christian Education” artinya Pendidikan Kristen, dan kemudian berkembang menjadi “Christian Religious Education” yaitu Pendidikan Agama Kristen.
            Menurut Homrighausen dan Enklaar Pendidikan Agama Kristen diterima oleh : “semua pelajar, muda dan tua memasuki persekutuan iman yang hidup dengan Tuhan sendiri, oleh dan dalam Dia terhisap pula pada persekutuan Jemaat-Nya  yang mengakui dan mempermuliakan-Nya di segala waktu dan tempat”.
            Pendidikan Agama Kristen membawa semua siswa yang percaya kepada Tuhan untuk terlibat dalam persekutuan iman sebagai bentuk dari pengakuannya di mana pun ia berada tidak terbatas waktu dan tempat. Di dalam kehidupan siswa atau semua orang percaya mempermuliakan Nama Tuhan Yesus. Sehingga melalui persekutuan iman tersebut siswa menbalami pendewasaan di dalam Tuhan Yesus. Selanjutnya Campbell Wyckoff (1955)t6 menjelaskan bahwa :
            “Pendidikan A6ama Kristen adalah pendidikan yang menyadarkan setiap orang akan Allah dan kasih-Nya dalam Yesus Kristus, agar dapat mengetahui diri mereka yang sebenarnya, keadaannya, bertumbah sebagai anak Allah dalam persekutuan Kristen, memenuhi pariggilan bersama sebagai murid Yesus di dunia dan tetap percaya kepada pengharapan Kristen.
            Berdasarkan pendapat ahli di atas maka dapat simpulkan bahwa Pendidikan Agama Kristen adalah merupakan salah satu dari tugas gereja yang sangat penting di lapangan pendidikan (di lingkungan sekolah dan gereja) dan pengajaran yang bertujuan untuk membimbing, mengarahkan dan mengajarkan pokok-pokok ajaran iman Kristen kepada individu  (siswa). Pendidikan Agama Kristen tidak dapat dipandang sebagai pekerjaan sambilan, saja, tetapi pekerjaan ini sebagai Amanat dari Allah yang mesti dilaksanakan oleh seorang guru dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati sebagai pelayanan kepada Allah.

C.  Konsep Dasar Tes Formatif Dalam Proses Belajar Mengajar
            Pembahasan konsep dasar tes formatif, meliputi pengertian tes formatif, tujuan, dan manfaat tes formatif, serta cara pelaksanaan tes formatif.
1.   Pengertian Tes Formatif
            Tes formatif adalah jenis tes yang diberikan pada akhir satuan bahasan, untuk mengetahui sampai sejauh mana bahan yang telah di pelajaran siswa dapat dikuasai, atau dengan kata lain evaluasi yang dilakukan terhadap hasil belajar setelah siswa selesai mengikuti program satuan pelajaran tertentu. Sejalan dengan pengertian tes formatif ini, dijelaskan bahwa, Tes Formatif adalah tes yang diadakan oleh guru pada akhir pertemuan belajar mengajar untuk mengukur dan menilai pencapaian tujuan Pelajaran yang telah ditetapkan (Winke1,1984:162).
            Pendapat ini menjelaskan bahwa tes formatif yang diberikan oleh guru pada tiap-tiap akhir pertemuan proses belajar mengajar untuk mengetahui daya serap siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar tersebut pada masing-masing satuan bahasan.
            Yang dimaksud dengan satuan bahasan disini adalah satu kesatuan yang terdiri dari beberapa pokok bahasan yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Selanjutnya dengan nada yang hanya sama (Suharsimi Arikunto, 1986: 41) menjelaskan pengertian tes formatif, sebagai berikut :
            Tes formatif adalah tes yang dirancang dan dilaksanakan oleh seorang guru sebagai salah satu komponen belajar mengajar yang dilaksanakan. Tes formatif ini dilaksanakan setiap kali pertemuan belajar mengajar dalam menyajikan satu pokok bahasan atau sub pokok bahasan, pelajaran yang ditetapkan oleh kurikulum atau Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) yang berlaku. Tes ini dilaksanakan untuk mengukur dan menilai hasil belajar yang dicapai siswa, setelah mengikuti program pengajaran, seperti yang dirancangkan dalam satuan pelajaran sebagai umpan balik (feed back) bagi guru untuk memperbaiki (remedial)
            Dari beberapa pendapat diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa tes formatif adalah tes atau evaluasi yang di laksanakan oleh guru dalam suatu pertemuan belajar mengajar, guna mengukur dan menilai keberhasilan belajar mengajar yang telah dilaksanakan. Keberhasilan ini menyangkut keberhasilan guru mengajar dan keberhasilan siswa belajar. Adapun yang menjadi tolak ukur penilaian formatif adalah pencapaian tujuan khusus pembelajaran, yang dilihat dari tingkat penguasaan siswa atas sejumlah penguasaan dan keahlian yang dikehendaki melalui proses belajar mengajar tertentu.  tujuan dan Manfaat Tes Formatif.
            Setiap kegiatan yang kita lakukan tentu saja mempunyai tujuan dan manfaat tersendiri. Demikian pula halnya dengan tes formatif ini juga mempunyai tujuan dan manfaat tertentu. Untuk jelasnya tujuan dan manfaat tes formatif, diuraikan sebagai berikut :
a.       Tujuan tes formatif.
                   Adapun tujuan tes formatif adalah untuk mengetahui sejauh mana tujuan pelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai melalui kegiatan belajar mengajar yang telah dilakukan oleh guru.
                  Dari hasil formatif ini sangat berguna bagi guru untuk mengambil langkah-langkah mempunyai komponen-komponen belajar mengajar. Menurut (Sutomo, 1985 :19) tujuan tes formatif adalah sebagai berikut :
                  Penilaian formatif adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana siswa mengetahui bahan yang telah diberikan atau sejauh mana telah tercapai TIK (Tujuan Instruksional Khusus) yang telah ditetapkan oleh guru. Dan sebagai umpan balik (feed back) bagi guru untuk memperbaiki (remedial)
                  Dari pendapat ini dapat disimpulkan bahwa tujuan tes formatif terbagi atas dua yaitu Pertama, tes formatif sebagai tolak ukur keberhasilan belajar mengajar, dan Kedua, sebagai umpan balik bagian peningkatan mutu belajar mengajar itu sendiri. Selanjutnya tujuan umum dari evaluasi antara lain sebagai berikut :
1.   Memperoleh informasi yang diperlukan untuk meningkatkan produktivitas serta efektivitas belajar siswa.
2.   Memperoleh informasi yang diperlukan untuk memperbaiki, menyempurnakan serta memperbanyak program. (Roestisyah, 1986 : 88).
            Dari tujuan evaluasi diatas, ternyata sama dengan tujuan dari tes formatif. Bertitik tolak dari beberapa pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan dari tes formatif adalah untuk mengukur kemampuan atau daya serap siswa dalam menerima pelajaran yang diberikan oleh guru dalam jangka waktu yang relative singkat yaitu pada tiap kali pertemuan, atau tiap akhir satuan bahasan. Disamping itu juga tujuan tes formatif sangat bermanfaat bagi guru dalam menganalisis proses belajar mengajar yang diberikan, untuk mengetahui kelemahan-kelemahan dari komponen-komponen kegiatan belajar mengajar seperti rumusan tujuan pembelajaran khusus (TPK), kesesuaian bahan, metode dan alat yang digunakan serta ketepatan alat penilaian.
b.      Manfaat tes formatif
            Manfaat tes formatif bagi siswa, dijelaskan sebagai berikut :
1.   Digunakan untuk mengetahui apakah siswa menguasai bahan pelajaran secara menyeluruh.
2.   Merupakan penguat (reinforcemen) bagi siswa. Dengan mengetahui bahan tes dikerjakan sudah menghasilkan skor tinggi sesuai dengan yang diharapkan, maka siswa merasa mendapat anggukan kepala dan para guru, dan ini merupakan tanda bahwa apa yang dimiliki merupakan pengetahuan yang sudah benar. Dengan demikian maka pengetahuan itu tambah melekat di ingatan. Disamping itu tanda keberhasilan suatu pelajaran bagi siswa itu akan dapat memperbesar motivasi untuk belajar lebih giat agar dapat mempertahankan nilai yang sudah baik itu atau untuk memperoleh nilai yang lebih baik lagi.
3.   Usaha memperbaiki. Dengan umpan batik (feed back) yang diperoleh setelah dengan teliti siswa mengetahui bab atau bagian dari bahan man yang belum dikuasai. Dengan demikian akan nada motivasi untuk meningkatkan kepuasan penguasaan.
4.   Sebagai diagnose. Bahan pelajaran dikuasai oleh siswa merupakan serangkaian pengetahuan, keterampilan dan konsep. Dengan mengetahui bagian mana dari bahan pelajaran yang masih dirasakan sulit. (Suharsimi Arikunto, 1986: 30).
4.   Cara pelaksanaan Tes Formatif
            Dalam pelaksanaan penilaian terhadap kegiatan belajar mengajar di sekolah, keberhasilannya sangat ditentukan oleh cara-cara atau teknik pelaksanaan tes itu sendiri, oleh sebab itu pada bagian ini akan dikemukakan cara pelaksanaan tes formatif di sekolah. Sebagaimana kita ketahui bahwa kegiatan evaluasi adalah merupakan salah satu komponen belajar yang harus mendapat perhatian dari guru dalam melaksanakan tugasnya dalam menyusun dan menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar.
5.   Hubungan tes Formatif dengan Tujuan Khusus Pembelajaran
            Tes formatif disusun oleh guru rencana pembelajarannya, hendaknya disesuaikan dengan tujuan pembelajaran khusus (TPK).
6.   Hubungan tes formatif dengan bahan pelajaran
            Evaluasi formatif yang telah dilaksanakan oleh guru tentu disusun sesuai dengan materi pelajaran yang telah diberikan kepada siswa. Kalau soal evaluasi formatif itu diberikan tidak sesuai dengan materi/bahan yang telah diajarkan, maka ada kemungkinan tidak seorang pun siswa yang dapat menjawabnya atau menyelesaikan tugas dan soal-soal evaluasi yang diberikan oleh guru, sehingga timbul penafsiran dari hasil evaluasi terhadap kegiatan belajar mengajar dipandang gagal.
7.   Hubungan tes formatif dengan siswa.
            Evaluasi yang dilaksanakan hendaknya, memperhatikan siswa sebagai subjek dari objek didik. Dalam penyusunan tes formatif hendaknya disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan tingkat kematangan siswa. Oleh karena itu jumlah soal, istilah yang dipakai dan tingkat kesukarannya harus sesuai dengan keadaan siswa. Hal ini sesuai pula dengan pendapat para ahli yang mengatakan sebagai berikut : "Evaluasi yang disusun dalam rangka proses belajar mengajar harus sesuai dengan taraf perkembangan siswa itu sendiri, baik bahan, bentuk soal maupun tingkat kesukarannya "(Wayan Nurkancana, 1982:82)


D.  Konsep Dasar Tes sumatif dalam proses belajar mengajar
            Ada beberapa hal yang perlu dibahas dalam konsep dasar tes sumatif ini yaitu meliputi pengertian tes sumatif, tujuan, dan manfaat tes sumatif serta cara pelaksanaannya.
      1.   Pengertian Tes Sumatif.
            Tes sumatif merupakan tes yang diberikan oleh guru sehubungan dengan selesainya beberapa pokok bahasan yang diberikan dalam satu semester. Tetapi adakalanya tes ini diberikan pada tengah semester, tes yang dilakukan seperti ini sering kita sebut dengan tes sub sumatif atau tengah semester. Sedangkan yang dikatakan tes sumatif yaitu tes yang dilaksanakan pada akhir program semester atau sering juga disebut ulangan semester. Untuk jelasnya pengertian penilaian sumatif ini diartikan sebagai berikut :
            "Penilaian sumatif adalah penilaian yang dilaksanakan setelah berakhirnya program pengajaran yang lebih bins yaitu satu semester..:: atau satu tahun, yang biasanya penilaian ini disebut dengan ulangan umum"(Sutomo, 1984: 18). Selajutnya Conny Seniawan menjelaskan maksud penilaian sumatif sebagai berikut :
            Yang dimaksud dengan evahiasi sumatif adalah kegiatan evaluasi, yang dilaksanakan oleh guru untuk mengukur dan menilai hasil belajar siswa, setelah menempuh beberapa kali pertemuan belajar mengajar, misalnya ulangan harian atau sib sumatif, dalam bentuk ulangan .... semester dan evaluasi akhir (EBTA). (Conny Seniawan, 1984:92).
           
            Kedua pendapat ini mempunyai pengertian dan maksud yang searah, sehingga dapat kita simpulkan bahwa tes sumatif adalah jenis alat penilaian yang dilakukan oleh guru _ dalam beberapa pokok bahasan atau untuk kurun waktu satu semester yang pelaksanaannya diberikan pada akhir semester atau tahun ajaran.
2.   Tujuan dan Manfaat Tes Sumatif.
            Berdasarkan uraian pengertian tes sumatif diatas yaitu tes yang dilaksanakan pada akhir program semester, disamping untuk mengetahui pencapaian tujuan pengajaran jangka panjang, maka hasil dari tes sumatif itu juga untuk menentukan nilai atau skor prestasi belajar siswa, yang bermanfaat sebagai bahan penentuan kenaikan kelas, kelulusan, peringkat siswa yang bersangkutan. Adapun manfaat evaluasi, secara umum dapat kita lihat dari pendapat berikut ini yaitu :
            Pertama untuk memberikan umpan balik kepada guru sebagai dasar memperbaiki proses belajar mengajar dan mengadakan program perbaikan (remedial) kepada siswa. Kedua untuk menentukan angka kemajuan/ hasil belajar masing-masing siswa yang antara lain dipakai sebagai laporan kepada orang tua, penentuan kenaikan kelas dan penentuan lulus tidaknya siswa. Ketiga untuk menempatkan siswa dalam situasi belajar mengajar yang tepat Misalnya dalam program studi, jurusan yang sesuai dengan tingkat kemampuan, karakteristik lain yang dimiliki siswa. Keempat untuk mengenal War belakang (psikologis, fisik dan Iingkungan) siswa yang mengalami kesulitan belajar, yang hasilnya dapat digunakan sebagai dasar dalam memecahkan kesulitan belajar"(Depdikbud, 1986: 1).          
3.   Cara Pelaksanaan Tes Sumatif.
            Bila kita melihat pelaksanaan tes formatif, tidak begitu membutuhkan perencanaan dan langkah-langkah yang kompleks, karena penyusunan dan pelaksanaan tes itu dilakukan oleh guru bidang studi masing-masing, tetapi untuk tes sumatif membutuhkan perencanaan yang matang dan kerjasama dari semua staf sekolah. Dalam hat ini kepala sekolah sebagai penanggung jawab pelaksanaan tes, ia akan memberikan tugas kepada beberapa guru, sebagai pelaksana. Untuk lebih jelasnya berikut ini di sajikan langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam tes sumatif adalah sebagai berikut :
a.   Pembentukan petugas pelaksana.
b.   Penyusunan naskah soal tes.
c.   Penyusunan jadwal pelaksanaan.
d.   Memperbanyak/penggandaan soal.
e.   Penyusunan jadwal pengawas.
f.    Pelaksanaan testing.
g.   Pemeriksaan hasil tes.

E.  Peranan formatif Dengan Tes Sumatif Dalam Meningkatkan Nilai belajar.
            Penilaian yang baik, apabila dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip penilaian. Adapun prinsip-prinsip penilaian adalah sebagai berikut :
Ada beberapa prinsip dalam pelaksanaan penilaian, antara lain :
1.   Kontinu yaitu penilaian yang kita laksanakan haruslah bersifat kontinu, terus menerus, tidak hanya dilakukan secara insidentil.
2.   Comprehensip yaitu penilaian yang kita laksanakan harus bersifat menyeluruh dari berbagai aspek, yaitu kognitif, psikomotor, dan afektif.
3.   Objektif yaitu penilaian yang dilaksanakan harus benar-benar objektif mengukur kemampuan apa yang hendak diukur.
4.   Kooperatif yaitu penilaian hendaknya di lakukan bersama-sama oleh semua guru yang bersangkutan, misalnya penilaian pada kenaikan kelas, ujian akhir. (Sutomo, 1984: 23)

F.   Pengaruh Tes Formatif Terhadap Tes Sumatif Dalam Meningkatkan Nilai Belajar Siswa.
            Sebagaimana telah diuraikan pada tujuan tes formatif yaitu untuk mengetahui sejauh mana penguasaan siswa terhadap bahan pelajaran yang telah diberikan dan sebagai umpan balik bagi guru untuk memperbaiki proses belajar mengajar berikutnya. Pada bagian terdahulu telah dijelaskan bahwa tes formatif dan tes sumatif dapat dimanfaatkan sebagai bahan laporan kepada orang tua siswa atau wall siswa yang bersangkutan. Hal ini dilakukan agar orang tua dan wali siswa dapat turut serta memperhatikan mutu pendidikan anaknya, sehingga terjalin  kerjasama antara orang tua siswa. dan guru dalam meningkatkan prestasi belajar siswanya.
            Dengan hasil penilaian formatif dan sumatif dapat juga memberikan motivasi belajar bagi siswa, misalnya bagi siswa yang memperoleh nilai rendah akan mendorong siswa untuk belajar lebih giat dan bagi siswa yang nilainya tinggi akan mendorong mereka untuk mempertahankan/meningkatkan prestasi belajarnya. Dan dengan nilai ini juga akan menimbulkan persaingan yang positif antara sesama siswa untuk memperoleh/meraih prestasi yang lebih baik.
            Dari beberapa uraian diatas, maka jelaslah bahwa hasil tes formatif. mempunyai implikasi atau berpengaruh besar terhadap peningkatan prestasi belajar siswa yang terlihat dari hasil nilai tes sumatifnya.

G.  Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen
1.   Pengertian Pembelajaran
a.   Konsep Pembelajaran
            Pembelajaran adalah serangkaian aktivitas yang diciptakan untuk membantu siswa dalam belajar.
            Menurut Gagne, mendefinisikan istilah pembelajaran sebagai "asset of event embedded purposeful activities that facilitate learning". Pembelajaran adalah serangkaian aktivitas yang sengaja diciptakan dengan maksud untuk memudahkan terjadinya proses belajar.
            Patricia L Smith dan Tillman J. Ragan, pembelajaran adalah pengembangan dan penyampaian informasi dan kegiatan yang di ciptakan untuk memfasilitasikan pencapaian tujuan yang spesifik.
            Yusuffiadi Miarso, pembelajaran adalah sebagai aktivitas atau kegiatan yang berfokus pada kondisi dan kepentingan pembelajaran (learner centered).
b.   Unsur-unsur dinamis dalam pembelajaran :
            Hal ini dapat dijelaskan melalui pengertian pembelajaran dalam menunjang tercapainya tujuan belajar siswa, sehingga baik guru maupun siswa sama-sama memiliki unsur dinamis. Unsur dinamis pada guru, yaitu untuk penyelenggaraan pembelajaran dan unsur dinamis pada siswa yaitu untuk proses belajar.
1.      Pendidikan Agama Kristen
              Hakekat Pendidikan Agama Kristen (PAK) seperti yang tercantum dalam hasil lokakarya strategi Pendidikan agama Kristen di Indonesia tahun 1999 adalah “usaha yang dilakukan secara kontinyu dalam rangka mengembangkan kemapunan peserta didik agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati Kasih Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus yang di nyantakan dalam kehidupan sehari-hari terhadap sesame dan lingkungan hidupnya.


DAFTAR KEPUSTAKAAN

Arikunto, Suharsimi, Dr, Dasar-Dasar Pendidikan. Jakarta, Bina Aksara. 1986.

Depdikbud, Pelaksanaan Sistem Penelitian. Dirjen Dikdasmen. 1986.

Karwapi, Drs. Beberapa Masalah dan Pendekatannya. Hasmar Medan. 1971.

Moh. Nazir, Metode Penelitian, Jakarta, GhaliaIndonesia.2002

NatawidjajaRochman, Drs. Psikologi Pendidikan. Jakarta, CV. Mutiara 1979.

Nurkancana Wayan, Drs. Dan PPN Sumartono, Evaluasi Pendidikan, Surabaya,Usaha Nasional.

Oemar Hamalik, Dr. Metodologi Pengajaran Ilmu Pendidikan, Bandung, Mandar Maju 1989.

Poerwadarminta, WJS, Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta, PN Balai Pustaka, 1966.

Roestisyah NK, Dra, Masalah-Masalah Ilmu Keguruan. Jakarta, BInaAksara. 1986

Sudirman N, Drs. Dkk, Ilmu Pendidikan, Bandung, Remaja karya, 1987.

Suryabrata, S. Metodologi Penelitian. Jakarta. CV. Rajawali, 1998.

Soetarno, H, Drs. M.Pd, Ilmu Keguruan Dasar-Dasar Kependidikan (Evaluasi), Bandung, Dirjendidesmen, 2002.

Sutomo, Drs. Teknik Penelitian Pendidikan. Surabaya, Bina Ilmu 1984.

Seniawan Conny, Pro, Pengukuran dan Penilaian dalam Dunia Pendidikan. Jakarta, PT. Gramedia 1984.

Team Didaktik dan Metode Kurikulum IKIP Surabaya, Pengantar Dikdaktik Kurikulum Proses Belajar Mengajar, IKIP, Surabaya 1976

Winkel, E.S. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta, PT. Gramedia. 1984.        




PROPOSAL


PERANAN TEST PERMATIF DALAM MENINGKATKAN NILAI TES
SUMATIF MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN
PADA SISWA KELAS X SEMESTER GANJIL DAN GENAP
SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1
PALANGKA RAYA





Di Susun Oleh :

Nama        :     YULIANA
NIM          :     07-02.11.178
Program   :     Strata Satu (S-1)
Jurusan    :     Pendidikan Agama  Kristen



















KEMENTRIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA
SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN NEGERI
(STAKN PALANGKA RAYA )


 
2011
KATA PENGANTAR

            Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan rahmat-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan proposal ini.
            Proposal penelitian ini, berjudul “Hubungan Antara Nilai Tes Fortmatif Dengan Tes Sumatif Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen Kelas I Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Bulik Kabupaten Lamandau “  sebagai calon guru yang baik kita selalu di tuntut untuk suka meneliti atau mencari dan menemukan berbagai macam masalah dalam pendidikan untuk mencari jalan keluarnya atau pemecahan masalah, sehingga  dapat menjadi guru yang kreatif dan inivatif untuk memajukan dunia pendidikan, sehingga tercipta sumber daya manusia yang berkualitas.
            Dalam penulisan proposal ini, penulis banyak mendapat bimbingan, arahan dan masukan dari dosen pembimbing, oleh karena itu melalui kesempatan ini saya menyampaikan terima kasih kepada ………..selaku dosen Pembimbing I (Satu) dan ………………selaku dosen pembimbing II (dua) semoga amal baik Bapak, Ibu saya tidak dapat membalas namun saya doakan semoga Tuhan Yang Maha Esa dapat membalasnya.
              Penulis menyadari proposal ini masih belum sempurna, untuk itu saran dan kritik sangat saya harapkan untuk memperbaiki proposal ini. Atas segala bantuan yang di berikan saya ucapkan terima kasih.
Palangka Raya,    Maret 2011
Penulis, 

i
 


  DAFTAR ISI


Halaman

HALAMAN SAMPUL ......................................................................................            i
HALAMAN JUDUL..........................................................................................           ii
KATA PENGANTAR .......................................................................................          iii
DAFTAR ISI ......................................................................................................          iv

BAB I    PENDAHULUAN ..............................................................................           1
A.  Latar Belakang dan Kontek Permasalahan ....................................           1
B.  Rumusan Masalah Penelitian .........................................................           3
C.  Tujuan Masalah Penelitian .............................................................           4
D.  Pembatasan Masalah ......................................................................           4
E.   Asumsi Penelitian ..........................................................................           4
F.   Alasan Pemilihan Judul dan manfaat Penelitian ............................           5
G.  Metodologi Penelitian ....................................................................           5
H.  Sistematika Penulisan ....................................................................           7

BAB II   KERANGKA TEORI  ........................................................................           9
A.  Pengertian Prestasi Belajar Pendidikan Agama Kristen ................           9
B.  Konsep Dasar Tes Formatif Dalam Proses Belajar Mengajar ........         10
C.  Konsep Dasar Tes Sumatif Dalam Proses Belajar Mengajar .........         16
D.  Hubungan Tes Formatif Dengan Tes Sumatif Dalam
      Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa ............................................         18
E.   Pengaruh Tes Formatif Terhadap Tes Sumatif Dalam
      Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa ............................................         19
   F.   Mata Pelajaran pendidikan Agama Kristen  ..................................         20



ii
 
DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar